SUKABUMIKITA.ID — Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan panjang dunia pendidikan di Indonesia. Di balik kemajuan sistem pendidikan saat ini, tersimpan kisah getir masa lalu, ketika akses belajar menjadi hak yang tidak mudah diraih oleh semua kalangan.
Salah satu saksi hidup yang masih menyimpan memori kuat tentang kerasnya pendidikan di masa penjajahan adalah H. Kamal Salim (92), pria kelahiran Padang Panjang, 29 September 1933. Kisah hidupnya menjadi potret nyata ketimpangan pendidikan pada era kolonial, sekaligus bukti keteguhan semangat dalam menuntut ilmu di tengah keterbatasan.
Ditemui pada Sabtu (02/05/2026), Kamal menuturkan bahwa sistem pendidikan pada masa penjajahan sangat diskriminatif. Anak-anak dari kalangan rakyat biasa hanya memiliki kesempatan mengenyam pendidikan dasar selama tiga tahun di Sekolah Rakyat. Setelah itu, mereka harus melanjutkan ke sekolah sambungan selama dua tahun, jika memiliki kemampuan dan kesempatan.
“Dulu itu sekolah untuk rakyat cuma tiga tahun, lalu ada sekolah sambungan dua tahun. Tapi kalau anak pegawai pemerintah, sekolahnya bisa sampai delapan tahun. Tiga tahun sekolah rakyat, lima tahun di sekolah Skakel, istilah Belanda,” ungkap Kamal.
Ketimpangan tersebut semakin terasa karena faktor ekonomi. Kamal kecil yang berasal dari keluarga sederhana harus membantu ibunya berjualan kue di depan sekolah rakyat. Aktivitas itu dilakukan demi menyambung hidup, sekaligus mendekatkan dirinya pada lingkungan pendidikan, meski dalam kondisi serba terbatas.
Kesulitan ekonomi bahkan sempat memaksanya berhenti sekolah selama satu tahun. Namun, tekad untuk mengubah nasib membuat Kamal kembali melanjutkan pendidikan.
“Setelah lulus SMP, saya sempat merantau ke Palembang setahun. Lalu kembali ke Padang dan lanjut sekolah di SMA Muhammadiyah pertama di Kota Padang,” tuturnya.
Perjalanan hidup Kamal tidak berhenti di bangku sekolah. Di usia remaja, ia mulai menapaki dunia kerja dengan bergabung di Radio Republik Indonesia (RRI) Padang sebagai penyiar. Kesempatan itu diraihnya melalui seleksi ketat, yang kala itu mensyaratkan minimal lulusan SMP.
Menariknya, dari 14 pelamar yang sebagian besar merupakan mahasiswa, Kamal yang masih berstatus siswa SMA justru menjadi satu-satunya yang berhasil lolos.
“Sambil sekolah, saya kerja jadi penyiar RRI. Dari 14 pelamar, semuanya mahasiswa, saya sendiri masih SMA. Tapi akhirnya saya yang diterima,” kenangnya.
Pengalaman tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Keterbatasan yang dihadapi sejak kecil justru membentuk karakter tangguh dan daya juang tinggi. Ia membuktikan bahwa kerasnya sistem pendidikan pada masa penjajahan tidak sepenuhnya mematahkan harapan, melainkan justru melahirkan generasi yang gigih dan adaptif.
Kini, di usianya yang telah memasuki lebih dari sembilan dekade, Kamal melihat perkembangan pendidikan di Indonesia dengan penuh rasa syukur. Akses pendidikan yang semakin merata, fasilitas yang lebih baik, serta kebijakan pemerintah yang berpihak pada pemerataan menjadi hal yang dahulu sulit dibayangkan.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 pun menjadi pengingat bahwa kemajuan yang dirasakan saat ini tidak lepas dari perjuangan generasi terdahulu.
Kisah H. Kamal Salim bukan sekadar catatan sejarah, melainkan refleksi mendalam bahwa pendidikan adalah hasil dari proses panjang yang penuh pengorbanan. Dari ruang kelas sederhana di masa penjajahan hingga sistem pendidikan modern saat ini, semangat belajar tetap menjadi kunci utama dalam membangun masa depan bangsa. (Cr5)
