SUKABUMI

Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober, Raden Koesoemo: Pancasila Tak Lekang Dimakan Waktu

Published

on

SUKABUMIKITA.ID — Peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober menjadi momentum untuk kembali memperkuat pemahaman sekaligus pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Anggota DPRD Kota Sukabumi dari Fraksi PDI Perjuangan, Raden Koesumo Hutaripto, mengatakan Hari Kesaktian Pancasila tidak semestinya dimaknai sebatas kegiatan seremonial. Menurutnya, peringatan tersebut harus menjadi pengingat mengenai posisi Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pedoman kehidupan bangsa Indonesia.

Hal itu disampaikan Raden, Rabu (30/09/2026), menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober.

“Ini suatu momentum di mana kita bangsa Indonesia bisa mempertahankan negara kita dari gerakan 30S-PKI, yang ingin mengganti ideologi kita dengan ideologi komunis,” kata Raden.

Ia mengatakan, peringatan Hari Kesaktian Pancasila memiliki keterkaitan dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang dalam narasi sejarah Indonesia pada masa Orde Baru dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Namun, Raden juga menilai bahwa peristiwa Gerakan 30 September 1965 hingga kini masih menjadi bagian dari kajian sejarah yang memiliki beragam narasi dan interpretasi. Salah satunya berkaitan dengan isu Dewan Jenderal yang berkembang sebelum terjadinya peristiwa tersebut.

“Kalau dari bacaan sejarah, masih debatable. Karena sebetulnya G30S itu diawali dengan isu-isu Dewan Jenderal. Yang akhirnya pada zaman Orde Baru berubah menjadi G30S-PKI,” ujarnya.

Kendati terdapat berbagai kajian dan interpretasi mengenai peristiwa sejarah tersebut, Raden menegaskan bahwa Pancasila tetap menjadi dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia.

Menurutnya, nilai yang terkandung dalam lima sila Pancasila perlu terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengamalan Pancasila, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan kehidupan bernegara, tetapi juga menjadi landasan dalam membangun kehidupan sosial di tengah masyarakat.

Raden juga menyinggung proses perumusan dasar negara oleh para pendiri bangsa menjelang kemerdekaan Indonesia. Ia menilai nilai Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi salah satu bagian penting dalam Pancasila dan mencerminkan karakter kehidupan bangsa Indonesia.

“Keikhlasan teman-teman BPUPKI untuk meringkaskan pasal satu pada Pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, buat kita, kita pun dengan Pancasila ini dapat mengamalkan lima sila sebagai patokan hidup kita,” tuturnya.

Selain menjadi dasar negara, Raden menyebut Indonesia memiliki karakter demokrasi yang berlandaskan Pancasila. Menurutnya, demokrasi Pancasila menjadi pedoman dalam kehidupan politik dan penyelenggaraan kehidupan bernegara di Indonesia.

“Bukan liberal, bukan juga demokrasi yang sosialis, tapi kita ada demokrasi Pancasila,” katanya.

Pancasila dan Generasi Muda

Lebih lanjut, Raden berharap peringatan Hari Kesaktian Pancasila dapat menjadi momentum untuk kembali menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Menurutnya, perkembangan zaman dan perubahan kehidupan masyarakat tidak semestinya membuat Pancasila kehilangan relevansinya. Sebaliknya, nilai-nilai Pancasila perlu terus dipahami dan diterapkan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan masyarakat saat ini.

“Harapannya dengan Kesaktian Pancasila tanggal 1 Oktober, Pancasila bisa meresap dan menjadi dasar pandangan umum daripada bangsa Indonesia. Insya Allah dengan Pancasila bangsa ini akan maju,” ujar Raden.

Ia secara khusus mengajak generasi muda untuk tetap menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, meskipun menghadapi perubahan zaman yang semakin cepat.

Raden menilai pengamalan tersebut dapat dimulai dari penerapan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa hingga keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Untuk generasi saat ini, meskipun zaman sudah berubah, Pancasila tidak lekang dimakan oleh waktu. Harapannya bisa meresapkan nilai-nilai Pancasila mulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa sampai keadilan sosial,” pungkasnya. (Cr5)

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Trending

Exit mobile version