KESEHATAN

Audiensi dengan Wamenkes, Ayep Zaki Bahas Penguatan Rumah Sakit Kota Sukabumi

Published

on

SUKABUMIKITA.ID — Pemerintah Kota Sukabumi mendorong penguatan layanan kesehatan melalui pengembangan infrastruktur rumah sakit, peningkatan kapasitas pelayanan hingga pemenuhan alat kesehatan. Upaya tersebut dibahas Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki saat melakukan audiensi dengan Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Benjamin Paulus Octavianus di Jakarta, Kamis (24/09/2026).

Pertemuan tersebut membahas kebutuhan pembangunan infrastruktur dan pemenuhan sarana prasarana kesehatan di Kota Sukabumi. Audiensi juga diikuti pemerintah daerah dari Kota Sukabumi, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Situbondo.

Dalam audiensi itu, Ayep memaparkan kondisi demografi dan administrasi Kota Sukabumi serta perkembangan pelayanan kesehatan. Saat ini, Kota Sukabumi memiliki dua rumah sakit daerah yang dikelola melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) serta 15 puskesmas yang menjadi bagian dari pelayanan kesehatan dasar masyarakat.

Salah satu fokus yang disampaikan kepada Kementerian Kesehatan adalah penguatan RSUD R. Syamsudin, S.H. dan Rumah Sakit Al Mulk.

Untuk RSUD R. Syamsudin, pemerintah daerah mengusulkan pengembangan gedung pelayanan, termasuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan Instalasi Bedah Sentral (IBS). Selain pembangunan fisik, kebutuhan pengadaan alat kesehatan juga menjadi bagian dari usulan tersebut.

“Yang kita dorong bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga pengadaan alat kesehatan, peningkatan kualitas pelayanan dan kompetensi. Jadi pembangunan rumah sakit harus berjalan bersama dengan peningkatan kemampuan pelayanan,” ujar Ayep.

Sementara itu, pengembangan Rumah Sakit Al Mulk diarahkan pada peningkatan kapasitas pelayanan, antara lain melalui penambahan ruang rawat inap dan sarana pendukung kesehatan.

Menurut Ayep, penguatan fasilitas kesehatan tersebut diperlukan untuk meningkatkan kemampuan rumah sakit dalam memenuhi kebutuhan pelayanan masyarakat.

Terbentur Keterbatasan Fiskal

Namun, pengembangan sektor kesehatan tersebut menghadapi tantangan keterbatasan fiskal daerah.

Ayep menyebut Pemerintah Kota Sukabumi terus melakukan efisiensi anggaran agar program-program prioritas tetap dapat dijalankan. Efisiensi yang dilakukan pemerintah daerah disebut mencapai sekitar 26 persen.

Di sisi lain, transfer dari pemerintah pusat ke daerah pada 2026 mengalami penurunan dari sekitar Rp859 miliar menjadi sekitar Rp615 miliar. Kondisi tersebut membuat ruang fiskal Pemerintah Kota Sukabumi semakin terbatas.

“Memang kondisi fiskal kita cukup berat. Karena itu, efisiensi harus dilakukan. Tetapi hasil efisiensi itu kita arahkan kembali kepada program-program yang strategis dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat,” jelas Ayep.

Selain melakukan efisiensi, Pemkot Sukabumi juga berupaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk memperbesar ruang fiskal dalam membiayai program prioritas.

Ke depan, pemerintah daerah menargetkan efisiensi belanja pegawai dapat mencapai sekitar 30 persen pada 2028. Ruang fiskal yang terbentuk dari efisiensi tersebut akan diarahkan kepada program strategis yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

Pengadaan CT Scan dan MRI

Selain pembangunan gedung dan peningkatan kapasitas rumah sakit, Pemkot Sukabumi juga menyampaikan kebutuhan peralatan kesehatan dengan nilai investasi yang cukup besar.

Di antaranya adalah Computed Tomography Scan (CT scan) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI).

Pemerintah daerah mempertimbangkan alternatif pembiayaan melalui perbankan untuk memenuhi kebutuhan peralatan tersebut. Skema tersebut dinilai perlu dikaji agar pengadaan alat kesehatan dapat dilakukan dengan pembiayaan yang lebih efisien dibandingkan pola kerja sama operasional yang selama ini dinilai membebani anggaran daerah.

“Kalau kita bisa menggunakan skema pembiayaan yang lebih efisien, ada ruang anggaran yang bisa kita alihkan untuk kebutuhan strategis lainnya. Jadi kita ingin pelayanan kesehatan meningkat, tetapi kemampuan keuangan daerah juga tetap kita jaga,” tutur Ayep.

Stunting dan Penanganan TBC Diperkuat

Di tengah keterbatasan anggaran, Pemkot Sukabumi juga menyampaikan sejumlah perkembangan dalam penanganan masalah kesehatan masyarakat.

Salah satunya adalah penurunan angka stunting di Kota Sukabumi.

Penanganan tuberkulosis atau TBC juga terus diperkuat. Pemkot Sukabumi mendapatkan dukungan dari PT Indofarma berupa paket obat untuk mendukung penanganan TBC.

Selain itu, pemerintah daerah telah menyiapkan satu kendaraan khusus untuk mendukung pelayanan TBC secara keliling sehingga layanan dapat menjangkau masyarakat secara lebih dekat.

“Alhamdulillah, stunting kita menurun. Untuk TBC juga terus kita tangani, termasuk dengan layanan keliling. Kita sudah siapkan satu mobil khusus sehingga pelayanan bisa lebih dekat kepada masyarakat,” ungkapnya.

Ayep mengatakan persoalan kesehatan juga berkaitan erat dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Karena itu, penanganan pengangguran menjadi bagian dari perhatian pemerintah daerah. Masyarakat yang memiliki pekerjaan dan pendapatan diharapkan mempunyai kemampuan lebih baik dalam memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk kebutuhan kesehatan dan gizi.

“Kesehatan, pendidikan, ekonomi, kemiskinan dan pengangguran semuanya saling beririsan,” kata Ayep.

Usulan Akan Dikawal ke Kemenkes dan Bappenas

Ayep menegaskan, berbagai kebutuhan pengembangan layanan kesehatan tersebut akan terus dikawal Pemerintah Kota Sukabumi.

Pemkot Sukabumi akan melanjutkan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas agar usulan pembangunan dan penguatan fasilitas kesehatan dapat ditindaklanjuti.

“Kita akan terus mengawal usulan ini ke Kementerian Kesehatan maupun Bappenas. Harapannya pembangunan dan penguatan rumah sakit di Kota Sukabumi dapat berjalan dengan baik, sehingga pelayanan kesehatan kepada masyarakat semakin berkualitas,” pungkasnya. (Cr5)

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Trending

Exit mobile version