Connect with us

PENDIDIKAN

Tekan Asap Pembakaran Sampah, Mahasiswa STKIP Bina Mutiara Kenalkan Rocket Stove di Padabeunghar

Published

on

SUKABUMIKITA.ID Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Tematik Kelompok 13 STKIP Bina Mutiara Sukabumi memperkenalkan teknologi rocket stove kepada masyarakat Desa Padabeunghar, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi.

Teknologi berupa tungku biomassa tersebut diperkenalkan sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi kebiasaan pembakaran sampah secara terbuka yang selama ini masih dilakukan sebagian masyarakat.

Program tersebut dilaksanakan selama Juli hingga Agustus 2026 dengan melibatkan mahasiswa dan masyarakat setempat. Kegiatan berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Rahmatika Layyinah, M.Pd.

Ketua KKM Tematik Kelompok 13 STKIP Bina Mutiara Sukabumi, Bintang Saputra, mengatakan penggunaan rocket stove dapat membantu mengurangi asap yang dihasilkan dari proses pembakaran biomassa.

“Asapnya jauh berkurang. Warga tidak perlu lagi terpapar asap tebal setiap kali membakar sampah,” ujar Bintang.

Rocket stove merupakan tungku pembakaran biomassa yang dirancang menggunakan saluran berbentuk huruf L atau J, dilengkapi cerobong vertikal dan ruang pembakaran yang terisolasi.

Desain tersebut memungkinkan terciptanya aliran udara alami atau natural draft. Kondisi ini membuat api lebih stabil dan menghasilkan suhu pembakaran yang lebih tinggi sehingga bahan bakar dapat terbakar secara lebih sempurna.

Berdasarkan penelitian Tawaqal dan Lesmana (2025) yang dicantumkan dalam bahan kegiatan, efektivitas pembakaran rocket stove mencapai rata-rata 98,7 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pembakaran terbuka yang disebut berada pada angka 81,3 persen.

Penggunaan teknologi tersebut juga disebut dapat menekan emisi karbon monoksida (CO) hingga 42 persen dibandingkan pembakaran konvensional.

Selain lebih efisien dalam proses pembakaran, rocket stove juga dinilai cukup mudah dibuat secara mandiri oleh masyarakat dengan menggunakan bahan yang relatif mudah ditemukan di toko material.

Bahan yang digunakan antara lain bata ringan atau hebel, semen biasa, semen tahan api, pipa besi, serta plat besi.

Dengan estimasi biaya sekitar Rp1 juta per unit, pembangunan rocket stove dapat dilakukan secara gotong royong antara mahasiswa dan masyarakat.

Rocket stove dapat digunakan dengan berbagai jenis bahan bakar biomassa yang tersedia di lingkungan sekitar. Di antaranya ranting kering, sekam padi, tongkol jagung, tempurung kelapa, hingga daun kering.

Penggunaan tungku tersebut juga disebut dapat menghemat konsumsi bahan bakar hingga 43 persen dibandingkan tungku konvensional.

Namun, mahasiswa memberikan penekanan bahwa rocket stove bukan untuk membakar semua jenis sampah.

Plastik, styrofoam, karet, serta berbagai limbah sintetis lainnya tidak boleh dibakar karena berpotensi menghasilkan zat atau gas berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Karena itu, penerapan rocket stove di Desa Padabeunghar juga disertai dengan edukasi mengenai pemilahan sampah.

Mahasiswa KKM Kelompok 13 tidak hanya membuat tungku rocket stove. Mereka juga menyediakan tempat sampah pilah yang ditempatkan di sekitar lokasi penggunaan tungku.

Keberadaan tempat sampah pilah tersebut ditujukan agar masyarakat terlebih dahulu memisahkan sampah organik dan anorganik.

Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali. Sementara itu, sampah organik kering atau residu tertentu yang sesuai dengan ketentuan dapat digunakan sebagai bahan bakar rocket stove.

Langkah tersebut diharapkan dapat membentuk pola pengelolaan sampah yang lebih terstruktur sekaligus mengurangi kebiasaan membakar sampah secara terbuka.

Pembuatan rocket stove dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan mahasiswa dan warga Desa Padabeunghar.

Masyarakat turut berpartisipasi mulai dari proses penyusunan bata hingga tahap finishing dan pengecatan tungku.

Selain praktik pembuatan, mahasiswa juga memberikan sosialisasi mengenai tata cara penggunaan rocket stove secara tepat.

Materi sosialisasi meliputi jenis bahan yang dapat digunakan sebagai bahan bakar, jenis sampah yang tidak boleh dibakar, serta dampak pembakaran sampah secara terbuka terhadap kesehatan dan lingkungan.

Kegiatan tersebut mendapat antusiasme dari masyarakat yang hadir. Sejumlah ibu rumah tangga, anggota karang taruna, dan warga sekitar turut mengikuti proses sosialisasi dan praktik secara langsung.

Dosen Pembimbing Lapangan KKM Tematik Kelompok 13, Rahmatika Layyinah, M.Pd., berharap inovasi tersebut tidak berhenti pada pembangunan fasilitas semata.

“Kami berharap rocket stove ini bukan hanya menjadi peninggalan fisik, tetapi juga mengubah kebiasaan warga dalam mengelola sampah secara lebih bertanggung jawab,” kata Rahmatika.

Menurutnya, keberadaan rocket stove dan tempat sampah pilah menjadi contoh bahwa teknologi tepat guna dapat diterapkan dengan pendekatan yang sederhana dan melibatkan masyarakat secara langsung.

Dengan bahan yang relatif terjangkau, proses pembuatan yang dapat dilakukan secara gotong royong, serta manfaat yang bisa dirasakan masyarakat, inovasi tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah awal dalam menciptakan lingkungan Desa Padabeunghar yang lebih bersih dan sehat.

Program KKM tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengelolaan persoalan lingkungan dapat dimulai dari tingkat desa melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat. (Cr5)

Continue Reading
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Copyright © 2026 SukabumiKita.id