JABAR
Survei IPO Oktober 2026: Elektabilitas Dedi Mulyadi Ungguli Prabowo
SUKABUMIKITA.ID – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menempati posisi teratas dalam simulasi elektabilitas calon presiden berdasarkan survei Indonesia Political Opinion (IPO) periode Oktober 2026. Dalam simulasi tanpa daftar nama calon atau top of mind, Dedi memperoleh 33,7 persen, jauh di atas Presiden Prabowo Subianto yang meraih 14,5 persen.
Hasil survei yang dilakukan pada 12–20 Oktober 2026 itu juga menempatkan Anies Baswedan di posisi ketiga dengan elektabilitas 11,3 persen. Sementara itu, Agus Harimurti Yudhoyono memperoleh 4,3 persen.
IPO melakukan dua simulasi untuk mengukur pilihan responden apabila pemilihan presiden dilaksanakan saat survei berlangsung. Dalam simulasi pertama, responden diminta menyebutkan tokoh yang akan dipilih tanpa diberikan daftar nama kandidat.
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan penelitian tersebut dilakukan untuk memotret opini masyarakat terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
“Penelitian dilakukan untuk mendapatkan gambaran opini masyarakat terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka,” kata Dedi Kurnia Syah dalam keterangan tertulis, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Dedi Mulyadi Unggul dalam Dua Simulasi
Keunggulan Dedi Mulyadi tidak hanya terlihat dalam simulasi top of mind. Pada simulasi kedua, ketika responden diberikan daftar nama calon presiden, Dedi tetap berada di posisi pertama dengan perolehan 32 persen.
Prabowo berada di urutan kedua dengan 18,4 persen, sedangkan Anies Baswedan memperoleh 12,6 persen.
Dengan demikian, dalam dua skenario pertanyaan tersebut, Dedi konsisten menempati posisi teratas. Namun, angka dari masing-masing simulasi perlu dibaca sesuai metode pertanyaan yang digunakan karena responden menghadapi situasi pemilihan yang berbeda.
Dedi Kurnia Syah menilai hasil survei itu menunjukkan keunggulan Dedi Mulyadi dibandingkan figur lain yang diuji dalam penelitian tersebut.
“Sedangkan suara kandidat lain masih tersebar dan belum terkonsolidasi pada satu figur penantang utama,” kata Dedi.
Pernyataan tersebut merupakan penilaian Direktur Eksekutif IPO terhadap hasil survei. Data yang tersedia menunjukkan sebaran pilihan responden, tetapi belum dengan sendirinya menjelaskan faktor yang menyebabkan tingginya elektabilitas masing-masing tokoh.
Prabowo, Anies, dan Sejumlah Tokoh Lain dalam Survei IPO
Dalam simulasi top of mind, Prabowo memperoleh 14,5 persen, diikuti Anies Baswedan sebesar 11,3 persen. Selisih antara Prabowo dan Anies mencapai 3,2 poin persentase.
Agus Harimurti Yudhoyono berada di posisi berikutnya dengan 4,3 persen, disusul Ganjar Pranowo sebesar 4,1 persen dan Gibran Rakabuming Raka dengan 3,7 persen.
Sejumlah nama lain juga masuk dalam daftar pilihan responden, antara lain Mahfud MD sebesar 2,9 persen, Pramono Anung 2,5 persen, Sherly Tjoanda 2 persen, dan Erick Thohir 1,9 persen.
Sementara itu, Amran Sulaiman memperoleh 1 persen, Zulkifli Hasan 0,9 persen, Susi Pudjiastuti 0,5 persen, dan Khofifah Indar Parawansa 0,5 persen.
Nama Bahlil Lahadalia, Anwar Hafid, Tito Karnavian, serta Basuki Tjahaja Purnama masing-masing tercatat memperoleh 0,2 persen.
Hal yang juga menonjol adalah proporsi responden yang menjawab tidak tahu atau tidak memberikan jawaban, yakni sebesar 20,1 persen. Angka ini menunjukkan masih terdapat kelompok responden yang belum menyebutkan pilihan dalam simulasi tanpa daftar nama kandidat.
Metode Survei dan Margin of Error
IPO menyelenggarakan survei pada 12–20 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.200 responden dari seluruh Indonesia. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling.
Lembaga tersebut mencantumkan margin of error sebesar 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Meski demikian, margin of error bukan jaminan bahwa hasil survei akan sama dengan hasil pemilihan umum. Angka tersebut perlu dipahami bersama metode pengambilan sampel, proses pengumpulan data, serta karakteristik responden yang terlibat.
Bahan hasil survei yang tersedia belum memerinci distribusi responden berdasarkan wilayah, demografi, maupun tingkat pendidikan. Informasi mengenai pembobotan sampel, tingkat respons, dan rincian pelaksanaan wawancara juga belum tercantum dalam data yang disampaikan.
Karena itu, hasil tersebut lebih tepat dibaca sebagai gambaran pilihan responden dalam survei pada periode tertentu, bukan sebagai kepastian mengenai hasil pemilihan presiden mendatang.
Dibandingkan Survei Tempo Data Science Agustus 2026
Hasil survei IPO disebut sejalan dengan survei Tempo Data Science yang digelar pada Agustus 2026. Dalam survei tersebut, elektabilitas Dedi Mulyadi dilaporkan mencapai 42 persen.
Prabowo memperoleh 15 persen, Anies Baswedan 10 persen, dan Gibran Rakabuming Raka 6 persen.
Meski kedua survei sama-sama menempatkan Dedi di posisi teratas, perbandingan angka perlu dilakukan secara hati-hati. Bahan informasi yang tersedia tidak memerinci apakah metode, rumusan pertanyaan, komposisi responden, dan skema simulasi kedua survei sepenuhnya sebanding.
Dengan perbedaan periode pelaksanaan dan kemungkinan perbedaan metodologi, angka dari kedua lembaga tidak dapat langsung dianggap sebagai ukuran perubahan elektabilitas yang sepenuhnya setara.
Hasil survei IPO Oktober 2026 pada akhirnya memperlihatkan Dedi Mulyadi unggul dalam dua simulasi yang dilakukan lembaga tersebut. Sementara itu, besarnya proporsi responden yang belum menentukan jawaban dalam simulasi top of mind serta rincian metodologi yang belum tersedia menjadi bagian penting untuk diperhatikan ketika membaca hasil penelitian ini. (Cr5)