SUKABUMI
Bahasa Sunda Baduy Tetap Jadi Penanda Identitas Budaya
SUKABUMIKITA.ID – Bahasa tidak sekadar menjadi alat untuk menyampaikan pesan. Bagi masyarakat Baduy Luar, bahasa Sunda Baduy memiliki fungsi yang jauh lebih mendalam karena berkaitan erat dengan identitas budaya, etika, tata krama, hubungan sosial, serta pewarisan nilai antargenerasi.
Sikap bahasa masyarakat Baduy Luar dapat dilihat melalui tiga dimensi utama, yakni kebanggaan berbahasa (language pride), kesetiaan atau loyalitas berbahasa (language loyalty), serta norma penggunaan bahasa (language norms), sebagaimana dikemukakan Mathiot (1963).
Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa Sunda Baduy tetap menempati posisi penting. Bahasa tersebut digunakan secara dominan dalam lingkungan keluarga dan kehidupan masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa bahasa Sunda Baduy diwariskan sejak usia dini melalui proses sosialisasi budaya.
Keluarga menjadi salah satu ruang utama dalam proses pewarisan bahasa, nilai, tradisi lisan, sekaligus norma budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, keberlangsungan penggunaan bahasa Sunda Baduy tidak dapat dilepaskan dari keberadaan keluarga dan komunitas sebagai lingkungan sosial utama masyarakat Baduy.
Bahasa Sunda Baduy juga menjadi sumber identitas dan kebanggaan budaya. Penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari memperlihatkan adanya keterikatan emosional dan simbolik masyarakat terhadap bahasa yang menjadi bagian dari budaya mereka.
Namun, ketika berhadapan dengan masyarakat dari luar komunitas atau memasuki situasi formal, masyarakat Baduy Luar dapat menggunakan bahasa Indonesia. Pilihan tersebut tidak selalu menunjukkan perubahan sikap terhadap bahasa ibu, melainkan berkaitan dengan situasi, hubungan sosial, kebutuhan komunikasi, serta konteks interaksi.
Bahasa sebagai Identitas Budaya
Kebanggaan berbahasa pada masyarakat Baduy Luar terlihat dari keberadaan bahasa Sunda Baduy sebagai salah satu penanda identitas budaya. Bahasa tidak hanya digunakan untuk berbicara, tetapi juga menjadi media dalam mempertahankan nilai-nilai sosial dan budaya yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Keberlanjutan penggunaan bahasa Sunda Baduy di lingkungan keluarga, masyarakat, interaksi sehari-hari, wacana adat, hingga proses pewarisan nilai kepada generasi muda menunjukkan bahwa bahasa tersebut masih memiliki posisi kuat dalam ranah internal kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, ukuran kebanggaan terhadap suatu bahasa tidak selalu dapat dilihat dari apakah masyarakat menggunakannya dalam seluruh situasi komunikasi. Yang lebih penting adalah sejauh mana bahasa tersebut tetap memiliki fungsi utama dalam kehidupan komunitas dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ketika Bahasa Sunda Baduy Bertemu Bahasa Indonesia
Fenomena menarik dapat dilihat dari penggunaan bahasa oleh Jaro Oom ketika menyampaikan pendapat di hadapan Pemerintah Provinsi Banten.
Dalam situasi tersebut, Jaro Oom tetap menggunakan bahasa Sunda Baduy, tetapi pada bagian tertentu mencampurkannya dengan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia terutama digunakan ketika harus menyampaikan istilah yang berkaitan dengan persoalan teknis maupun administratif.
Fenomena pencampuran bahasa tersebut tidak tepat jika langsung dimaknai sebagai berkurangnya kebanggaan atau loyalitas terhadap bahasa Sunda Baduy.
Dalam perspektif emik, penggunaan bahasa Indonesia dalam situasi tersebut dapat dipahami sebagai bentuk kepatutan sosial sekaligus strategi komunikasi untuk memastikan pesan yang disampaikan dapat dipahami secara tepat oleh pihak yang menjadi lawan bicara.
Posisi Jaro Oom sebagai tokoh yang menjadi penghubung antara masyarakat Baduy dengan lingkungan luar juga membuat kemampuan menyesuaikan penggunaan bahasa menjadi penting.
Di satu sisi, identitas budaya tetap dipertahankan melalui penggunaan bahasa Sunda Baduy. Di sisi lain, penggunaan bahasa Indonesia diperlukan sebagai sarana komunikasi ketika berhadapan dengan lingkungan pemerintahan maupun masyarakat di luar komunitas Baduy.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pilihan bahasa sangat dipengaruhi oleh konteks sosial. Bahasa yang digunakan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan berbahasa, tetapi juga oleh siapa lawan bicaranya, dalam situasi apa komunikasi berlangsung, serta tujuan yang hendak dicapai.
Bahasa Indonesia sebagai Jembatan Komunikasi
Penggunaan bahasa Indonesia dalam lingkungan eksternal dapat dipandang sebagai strategi pragmatis. Terlebih ketika masyarakat Baduy harus berkomunikasi dalam ruang pemerintahan atau menyampaikan persoalan yang menggunakan istilah administratif tertentu.
Dalam kondisi demikian, pencampuran bahasa dapat membantu menyampaikan pesan secara lebih efektif, terutama ketika terdapat istilah teknis atau administratif yang belum memiliki padanan konseptual yang benar-benar mapan dalam bahasa Sunda Baduy.
Karena itu, penggunaan bahasa Indonesia tidak serta-merta menunjukkan bahwa masyarakat Baduy mulai meninggalkan bahasa ibu mereka.
Bahasa Sunda Baduy tetap memiliki posisi kuat dalam ranah yang dianggap sentral, seperti keluarga, lingkungan masyarakat, interaksi sehari-hari, wacana adat, serta pewarisan nilai kepada generasi muda.
Sementara bahasa Indonesia lebih banyak berfungsi secara situasional, terutama ketika masyarakat memasuki ruang pemerintahan dan berinteraksi dengan pihak luar.
Loyalitas Bahasa di Tengah Perubahan
Loyalitas bahasa pada dasarnya mencerminkan kesediaan suatu komunitas untuk terus menggunakan dan mempertahankan bahasa ibu di tengah perubahan sosial, politik, maupun ekonomi.
Dalam konteks masyarakat Baduy Luar, loyalitas tersebut terlihat dari keberlanjutan penggunaan bahasa Sunda Baduy dalam kehidupan internal masyarakat serta proses pewarisannya kepada generasi berikutnya.
Karena itu, pemertahanan bahasa Sunda Baduy tidak harus dipahami sebagai sikap yang menutup diri dari penggunaan bahasa lain. Sebaliknya, terdapat keseimbangan antara mempertahankan identitas budaya dan beradaptasi dengan kebutuhan komunikasi eksternal.
Penggunaan bahasa Indonesia dalam situasi tertentu justru memperlihatkan adanya kemampuan masyarakat untuk melakukan negosiasi identitas linguistik tanpa harus kehilangan identitas budaya.
Bahasa Sunda Baduy tetap menjadi penanda budaya inti di ruang internal, sedangkan bahasa Indonesia berfungsi sebagai jembatan dalam hubungan lintas budaya dan birokrasi.
Pada akhirnya, keberhasilan pemertahanan bahasa tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering sebuah bahasa digunakan, tetapi juga oleh keberlanjutan fungsi bahasa tersebut dalam kehidupan masyarakat.
Bagi masyarakat Baduy Luar, bahasa Sunda Baduy tetap menjadi medium penting dalam pewarisan nilai, membangun solidaritas sosial, memperkuat identitas budaya, serta menjaga hubungan dengan tradisi dan pikukuh karuhun.
Sementara kemampuan menggunakan bahasa Indonesia dalam konteks tertentu menunjukkan bahwa pemertahanan bahasa dapat berjalan beriringan dengan adaptasi terhadap perubahan zaman.
Dengan demikian, kebanggaan dan loyalitas masyarakat Baduy Luar terhadap bahasa Sunda Baduy masih terlihat kuat. Penggunaan bahasa Indonesia pada ranah eksternal tidak otomatis menjadi tanda melemahnya bahasa daerah, melainkan dapat menjadi bagian dari strategi masyarakat dalam mempertahankan identitas sekaligus membangun komunikasi yang efektif dengan dunia luar.
Ditulis oleh:
Dr. Sri Rahayu, S.Pd., M.Pd.
STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi