Perjalanan Karier AKP Erick Sukandar, Polisi Humanis yang Dipercaya Pimpin Polsek Lembursitu

SUKABUMIKITA.ID – Tidak semua penghargaan datang dalam bentuk piala atau piagam. Bagi Kapolsek Lembursitu, AKP Erick Sukandar, kenaikan pangkat yang diterimanya bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80, Rabu (01/07/2026), menjadi pengakuan atas perjalanan panjang selama 22 tahun mengabdi sebagai anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Di balik sepasang tanda pangkat yang kini menghiasi pundaknya, tersimpan kisah tentang dedikasi, ketekunan, serta komitmen seorang polisi yang memilih menjadikan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari jalan hidupnya.

Bagi Erick, kenaikan pangkat bukan sekadar pencapaian karier. Lebih dari itu, penghargaan tersebut merupakan amanah baru yang harus dijawab dengan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

“Kenaikan pangkat ini bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi menjadi motivasi untuk terus memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat serta menjaga kepercayaan yang telah diberikan institusi Polri,” ujar Erick saat ditemui wartawan usai peringatan Hari Bhayangkara ke-80.

Perjalanan Panjang dari Palabuhanratu

Perjalanan Erick sebagai polisi dimulai pada tahun 2004. Penugasan pertamanya berada di Polres Sukabumi yang berkedudukan di Palabuhanratu.

Selama lebih dari 13 tahun, ia mengabdikan diri di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi. Sebagian besar masa dinasnya dijalani di fungsi Intelijen dan Keamanan (Intelkam), salah satu bidang yang dikenal membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta kemampuan membaca dinamika sosial dan keamanan secara mendalam.

Di balik pekerjaannya yang jarang terekspos publik, Erick terbiasa membangun komunikasi dengan berbagai kalangan masyarakat, melakukan deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan, hingga menyusun langkah-langkah pencegahan agar konflik tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

“Pertama jadi polisi, saya bertugas di Polres Sukabumi (Palabuhanratu) dari tahun 2004 sampai 2017. Setelah itu saya mengikuti pendidikan SIP Intel, kemudian pada tahun 2018 mendapat penugasan di Polres Majalengka,” ungkap Erick.

Baginya, pengalaman panjang di bidang intelijen menjadi fondasi penting dalam membangun pola pikir seorang pemimpin. Seorang polisi, menurutnya, tidak cukup hanya bertindak ketika masalah muncul, tetapi harus mampu mengantisipasi persoalan sebelum berkembang.

Menimba Pengalaman di Majalengka

Usai menyelesaikan pendidikan pengembangan melalui Sekolah Inspektur Polisi (SIP), Erick memperoleh penugasan baru di Polres Majalengka.

Sekitar dua tahun tiga bulan ia menjalankan tugas di wilayah tersebut. Pengalaman bertugas di daerah yang berbeda memberinya banyak pelajaran mengenai karakter masyarakat, pola kriminalitas, hingga strategi pelayanan kepolisian yang efektif.

Setiap wilayah, katanya, memiliki tantangan yang tidak sama. Karena itu, seorang anggota Polri dituntut mampu cepat beradaptasi tanpa mengurangi profesionalisme dalam menjalankan tugas.

Babak Baru di Polres Sukabumi Kota

Perjalanan karier Erick kemudian berlanjut ke Polres Sukabumi Kota. Di sinilah ia memasuki fase baru sebagai seorang perwira yang dipercaya memegang tanggung jawab lebih besar.

Jika sebelumnya lebih banyak bekerja di balik layar sebagai personel Intelkam, kini Erick tampil di garis depan pelayanan masyarakat sebagai Kapolsek Lembursitu.

Seragam dinas yang kini dikenakannya setiap hari menjadi simbol perubahan peran. Dari seorang analis keamanan, ia kini menjadi pemimpin wilayah yang langsung berhadapan dengan berbagai persoalan masyarakat.

“Saya lama bertugas di Intelkam, baru sekarang bertugas menggunakan seragam karena dipercaya menjabat sebagai Kapolsek. Banyak pengalaman yang saya alami, termasuk menangani kasus pencurian dengan kekerasan dan berbagai persoalan kamtibmas lainnya,” tuturnya.

Polisi yang Mengutamakan Pencegahan

Berbeda dengan pandangan sebagian masyarakat yang melihat polisi hanya sebagai penegak hukum, Erick memandang tugas kepolisian jauh lebih luas.

Menurutnya, keberhasilan seorang polisi bukan hanya diukur dari banyaknya pelaku kejahatan yang berhasil ditangkap, tetapi juga dari kemampuannya mencegah tindak kriminal sebelum terjadi.

Pengalaman bertahun-tahun di bidang Intelkam membentuk karakter kepemimpinannya yang mengedepankan komunikasi, pendekatan persuasif, dan deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan.

Karena itu, sejak dipercaya memimpin Polsek Lembursitu, Erick berusaha menghadirkan kepolisian yang lebih dekat dengan masyarakat.

Baginya, membangun hubungan yang harmonis dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah, hingga generasi muda merupakan investasi penting dalam menjaga situasi keamanan yang kondusif.

Ia meyakini bahwa keamanan tidak dapat diciptakan hanya oleh aparat kepolisian. Sinergi seluruh elemen masyarakat menjadi fondasi utama terciptanya lingkungan yang aman dan nyaman.

Pengabdian Adalah Amanah

Di tengah dinamika tugas yang tidak mengenal waktu, Erick menyadari profesi polisi menuntut pengorbanan besar.

Banyak momen bersama keluarga yang harus dilewatkan demi menjalankan tugas negara. Namun, bagi dirinya, seluruh pengorbanan tersebut merupakan bagian dari amanah yang telah dipilih sejak pertama mengenakan seragam Bhayangkara.

Momentum Hari Bhayangkara ke-80 sekaligus menjadi refleksi atas perjalanan panjang yang telah dilaluinya. Selama lebih dari dua dekade, berbagai pengalaman telah membentuknya menjadi sosok pemimpin yang matang, rendah hati, dan memahami pentingnya kehadiran negara di tengah masyarakat melalui institusi Polri.

Kenaikan pangkat yang diterimanya bukan menjadi garis akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

“Pengabdian sebagai anggota Polri bukan sekadar pekerjaan, tetapi amanah. Selama 22 tahun saya belajar bahwa keberhasilan polisi bukan hanya dari banyaknya kasus yang diungkap, tetapi ketika masyarakat benar-benar merasakan kehadiran Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan,” tegas Erick.

Di tengah tuntutan masyarakat terhadap pelayanan publik yang semakin berkualitas, sosok AKP Erick Sukandar menjadi gambaran bahwa profesionalisme dibangun melalui proses panjang, pengalaman, dan komitmen yang terus dijaga. (Cr5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *