Kasus DBD di Kota Sukabumi Turun Awal 2026, Dinkes Catat 54 Kasus Tanpa Kematian

SUKABUMIKITA.ID – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Sukabumi, Jawa Barat, tercatat mengalami penurunan pada awal tahun 2026. Meski kondisi cuaca cukup ekstrem yang biasanya memicu berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti, jumlah kasus yang dilaporkan pada Januari justru lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Data dari Dinas Kesehatan Kota Sukabumi menunjukkan, sepanjang Januari 2026 terdapat 54 kasus DBD tanpa adanya laporan kematian. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata kasus pada tahun sebelumnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Denna Yuliavina, mengatakan pada tahun 2025 tercatat 1.017 kasus DBD dengan satu kasus kematian. Jika dirata-ratakan, setiap bulan terdapat sekitar 84 kasus.

“Sepanjang tahun lalu tercatat ada sekitar 1.017 kasus DBD dengan satu kasus kematian. Dirata-ratakan, pada tahun lalu setiap bulan itu terdapat 84 kasus. Tahun ini, khususnya sepanjang Januari, terdapat 54 kasus DBD dengan nol kasus kematian. Jadi, bisa disimpulkan jumlah kasusnya cenderung menurun,” ujar Denna, Jumat (27/02/2026).

Sebaran Kasus di Tujuh Kecamatan

Berdasarkan data Dinkes, 54 kasus DBD yang tercatat pada Januari 2026 tersebar di tujuh kecamatan di Kota Sukabumi. Wilayah dengan temuan kasus terbanyak berada di Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole dengan 7 kasus.

Sementara itu, Kelurahan Karangtengah di Kecamatan Gunungpuyuh mencatat 6 kasus, dan Kelurahan Baros di Kecamatan Baros juga ditemukan 6 kasus.

Meski demikian, terdapat kabar baik karena 11 dari total 33 kelurahan di Kota Sukabumi dilaporkan tidak memiliki kasus DBD selama periode tersebut.

Angka Bebas Jentik Lampaui Target Nasional

Selain penurunan kasus, Dinkes juga mencatat capaian angka bebas jentik (ABJ) di Kota Sukabumi sepanjang Januari mencapai 97,4 persen. Angka ini berada di atas target nasional sebesar 95 persen, yang menunjukkan tingkat perkembangbiakan jentik nyamuk relatif rendah.

Menurut Denna, kondisi ini menjadi indikator bahwa upaya pencegahan yang dilakukan masyarakat bersama pemerintah cukup efektif menekan populasi nyamuk penyebab DBD.

Anak-anak Masih Rentan Terjangkit

Meski kasus menurun, Dinkes mengingatkan bahwa anak-anak masih menjadi kelompok yang paling rentan terjangkit DBD. Karena itu, peran orang tua dan pengelola lembaga pendidikan sangat penting dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Masyarakat diimbau secara rutin menerapkan 3M Plus, yakni menguras dan menutup tempat penampungan air serta mendaur ulang barang-barang yang berpotensi menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti.

“Cara efektif memberantas DBD adalah dengan pemberantasan sarang nyamuk atau PSN. Ini cukup efektif dan efisien karena murah dan mudah dilakukan, misalnya dengan bersih-bersih secara berkala seminggu sekali menggunakan metode 3M Plus. Fogging merupakan upaya terakhir dari pencegahan DBD,” jelas Denna.

Program Jumantik Diperkuat

Untuk memperkuat pencegahan, Dinkes Kota Sukabumi juga menjalankan program Gerakan 1 Rumah 1 Juru Pemantau Jentik (Jumantik). Program ini bertujuan melibatkan masyarakat secara langsung dalam memantau keberadaan jentik nyamuk di lingkungan rumah.

Gerakan Jumantik tidak hanya diterapkan di permukiman warga, tetapi juga di lingkungan perkantoran agar pengawasan terhadap potensi sarang nyamuk dapat dilakukan lebih luas.

“Gerakan ini juga kami terapkan di lingkungan perkantoran. Mudah-mudahan dengan berbagai upaya yang dilakukan, kita bisa mencegah pejangkitan DBD,” pungkas Denna. (Cr5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *