SUKABUMIKITA.ID – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan sindiran tajam terhadap Presiden AS Donald Trump.
Sindiran tersebut merupakan respons atas pernyataan Trump yang mengancam akan “mengembalikan Iran ke Zaman Batu” dalam beberapa pekan ke depan.
Melalui akun media sosial X, Araghchi secara sarkastis mempertanyakan apakah Amerika Serikat benar-benar siap menghadapi konsekuensi dari ancaman tersebut.
“Ada satu perbedaan mencolok antara masa kini dan zaman batu. Tidak ada minyak atau gas yang dipompa di Timur Tengah saat itu,” ujarnya, Jumat (03/04/2026).
Ia kemudian menambahkan, “Apakah Presiden AS dan rakyat Amerika yang memilihnya yakin bahwa mereka ingin memutar kembali waktu?”
Sebelumnya, Donald Trump menyatakan bahwa tujuan Amerika Serikat terhadap Iran hampir tercapai. Ia juga mengisyaratkan kemungkinan serangan besar dalam waktu dekat.
“Kami akan menghantam mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga pekan ke depan,” ujar Trump di Washington, Rabu (01/04/2026), dikutip dari Associated Press.
Trump bahkan menegaskan bahwa Iran akan dikembalikan ke kondisi yang sangat tertinggal.
“Kami akan mengembalikan mereka ke Zaman Batu, tempat di mana mereka seharusnya berada,” tambahnya.
Tak lama setelah pernyataan tersebut, Iran dilaporkan melancarkan serangan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk Israel dan negara-negara Teluk.
Salah satu serangan disebut menghantam wilayah Bahrain, dengan klaim mengenai kerusakan pada pusat penyimpanan data milik Amazon.
Meski mendapat tekanan dari AS dan sekutunya, Iran menegaskan bahwa kekuatan militernya masih solid dan siap menghadapi konflik.
Juru bicara militer Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya Iran, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa negaranya masih memiliki cadangan persenjataan yang cukup.
Ia menegaskan bahwa persenjataan dan amunisi tersebut disimpan di lokasi tersembunyi dan belum tersentuh oleh serangan musuh.
Pernyataan ini sekaligus membantah klaim pihak AS dan Israel yang menyebut telah melumpuhkan kekuatan militer Iran.
Memanasnya hubungan antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi pusat konflik dan kepentingan energi dunia.
Situasi ini pun menjadi perhatian internasional, mengingat potensi eskalasi konflik yang dapat berdampak luas terhadap stabilitas kawasan hingga ekonomi global. (Cr5)
