Guru di Tanjab Timur Klarifikasi Tuduhan Penindasan Siswa Usai Viral Pengeroyokan

SUKABUMIKITA.ID Guru dari sekolah menengah kejuruan (SMK) jurusan pertanian di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjab Timur), Provinsi Jambi, Agus Saputra, memberikan klarifikasi terkait tuduhan penindasan terhadap siswa yang disebut-sebut menjadi pemicu aksi pengeroyokan terhadap dirinya. Klarifikasi tersebut disampaikan Agus saat berada di Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, kemarin.

Agus menegaskan, tidak pernah melakukan pemaksaan kepada siswa dalam proses belajar mengajar, termasuk dalam pemberian tugas sekolah. Ia membantah keras tudingan adanya penindasan maupun persekongkolan yang diarahkan kepadanya, Kamis (15/01/2026). “Tidak ada pemaksaan atau penindasan. Siapa yang mau mengerjakan, silakan. Semua tugas harus dilakukan secara sukarela,” ujar Agus.

Menurutnya, apabila ada siswa yang merasa keberatan mengerjakan tugas, hal tersebut tidak pernah dipermasalahkan. Agus menekankan bahwa seluruh proses pembelajaran seharusnya dijalani secara sadar sebagai bagian dari pendidikan dan pembentukan karakter siswa.

Agus juga mengungkapkan bahwa selama lebih dari 15 tahun mengabdi sebagai tenaga pendidik, peristiwa menampar siswa baru pertama kali ia lakukan. Tindakan tersebut, kata dia, terjadi dalam situasi emosional yang memuncak setelah dirinya mengaku dirundung oleh sejumlah siswa selama dua tahun terakhir. “Selama dua tahun saya dirundung oleh siswa yang bersangkutan dan beberapa siswa laki-laki lainnya. Selama itu saya sabar karena saya anggap ini risiko seorang guru,” ungkapnya.

Namun, Agus mengakui kesabarannya runtuh lantaran tindakan perundungan terus berulang. Ia merasa perlu mengambil sikap tegas sebagai bentuk penanaman nilai moral kepada siswa. “Bertahun-tahun saya dirundung. Hari itu saya tidak tahan dan akhirnya menampar siswa tersebut. Tapi setelah itu justru saya dikeroyok,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam proses mediasi, dirinya telah menyampaikan sikap terbuka apabila memang diminta untuk dipindahkan dari sekolah tersebut. “Kalau memang siswa tidak senang dengan saya, silakan buat petisi agar saya dipindahkan. Itu poin yang saya sampaikan saat mediasi,” katanya.

Klarifikasi Agus ini disampaikan sebagai respons atas berbagai tudingan negatif yang bermunculan di media sosial setelah video pengeroyokan terhadap dirinya viral. Bahkan, sempat beredar video permintaan maaf dari Ketua OSIS sekolah tersebut yang disertai tuntutan agar Agus Saputra dipindahkan demi kenyamanan siswa.

Saat ini, kasus tersebut masih menjadi perhatian publik dan pihak terkait, termasuk Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, guna mencari solusi terbaik agar proses pendidikan tetap berjalan kondusif dan adil bagi semua pihak. (Cr5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *