SUKABUMIKITA.ID – Upaya menekan angka stunting terus dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Sukabumi melalui berbagai program inovatif. Salah satu langkah yang kini digencarkan adalah gerakan Satu Telur Satu Pegawai, sebuah terobosan yang digagas oleh Ayep Zaki selaku Wali Kota Sukabumi untuk memperkuat intervensi gizi bagi kelompok rentan.
Program tersebut tidak sekadar menjadi simbol kepedulian aparatur pemerintah, melainkan dirancang sebagai bagian dari strategi penanganan stunting yang terukur dan berkelanjutan di Kota Sukabumi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Ida Halimah, menjelaskan bahwa gerakan ini bertujuan meningkatkan asupan protein bagi balita serta ibu hamil yang masuk dalam kategori rentan stunting.
“Ini bukan hanya satu telur satu pegawai, tapi sebuah gerakan bersama yang sangat bermanfaat untuk percepatan penurunan stunting,” kata Ida, Rabu (4/2).
Menurutnya, intervensi yang dilakukan tidak berhenti pada pemberian telur sebagai tambahan asupan protein. Program ini juga dibarengi dengan berbagai langkah pendampingan, seperti edukasi gizi kepada keluarga penerima manfaat, pemantauan tumbuh kembang balita, hingga pendampingan kesehatan secara berkelanjutan.
Dinkes Kota Sukabumi juga telah menetapkan sasaran penerima manfaat secara jelas. Saat ini tercatat sekitar 232 penerima intervensi, yang terdiri dari balita dengan kondisi kekurangan energi kronis (KEK) serta ibu hamil dengan kondisi serupa.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu memberikan dampak langsung terhadap peningkatan status gizi masyarakat, khususnya bagi kelompok yang paling berisiko mengalami stunting.
Berdasarkan data terbaru, angka stunting di Kota Sukabumi saat ini masih berada di kisaran 19,7 persen. Melalui penguatan program dan kolaborasi lintas sektor, pemerintah daerah menargetkan angka tersebut dapat terus ditekan dalam beberapa tahun ke depan.
Dinkes menargetkan pada tahun 2026 angka stunting dapat turun hingga 16 persen, bahkan diharapkan mampu mendekati target nasional yang berada di kisaran 14 persen.
“Target tahun 2026 harus turun menjadi 16 persen. Bahkan kami berharap bisa lebih baik dan mendekati angka nasional di 14 persen. Mudah-mudahan tercapai dengan kerja bersama,” pungkas Ida.
Melalui gerakan Satu Telur Satu Pegawai, pemerintah berharap tercipta kolaborasi yang kuat antara aparatur pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam menanggulangi persoalan stunting, sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan generasi masa depan di Kota Sukabumi. (Cr5)
