Sukabumi Tersendat Setiap Akhir Pekan: Ketika Jalan Tol Belum Mampu Mengurai Kemacetan

SUKABUMIKITA.ID Setiap akhir pekan, wajah Kota Sukabumi dan jalur menuju kawasan wisata di Kabupaten Sukabumi berubah menjadi potret klasik kemacetan panjang. Ribuan kendaraan dari arah Jakarta, Bogor, dan sekitarnya memadati ruas jalan utama sejak Jumat sore hingga Minggu malam.

Kondisi ini bukan lagi sekadar gangguan lalu lintas biasa, melainkan persoalan serius yang berdampak pada ekonomi lokal, kenyamanan warga, hingga efektivitas mobilitas masyarakat. Kemacetan paling terasa di sejumlah titik strategis seperti jalur menuju Selabintana, kawasan wisata Pelabuhanratu, Sukaraja, Cisaat, hingga pusat Kota Sukabumi.

Antrean kendaraan sering kali mengular berjam-jam, terutama saat musim liburan atau akhir pekan panjang. Warga lokal menjadi pihak yang paling terdampak karena aktivitas harian terganggu, distribusi barang melambat, dan waktu tempuh meningkat drastis.

Hadirnya jalan tol, yang semula diharapkan menjadi jawaban atas persoalan konektivitas dan pengurai kepadatan, pada kenyataannya belum banyak membantu menyelesaikan masalah kemacetan di Sukabumi secara menyeluruh. Tol memang mempercepat akses dari luar daerah menuju Sukabumi, tetapi persoalan justru muncul ketika kendaraan keluar dari gerbang tol dan memasuki ruas jalan arteri yang kapasitasnya masih terbatas.

Akibatnya, terjadi penumpukan kendaraan di titik-titik pertemuan antara jalur tol dan jalan lokal. Fenomena ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur besar seperti tol tidak otomatis menyelesaikan kemacetan jika tidak diimbangi dengan perbaikan jaringan jalan pendukung, manajemen lalu lintas, serta transportasi publik yang memadai.

Tol hanya mempercepat kedatangan kendaraan, tetapi tidak cukup efektif ketika jalan-jalan di dalam kota dan kawasan wisata tetap sempit, minim pelebaran, dan belum tertata optimal. Selain faktor infrastruktur, pertumbuhan kendaraan pribadi yang terus meningkat juga menjadi penyebab utama.

Banyak wisatawan lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dibanding transportasi umum karena alasan fleksibilitas. Di sisi lain, angkutan umum menuju destinasi wisata masih terbatas dari segi kenyamanan, integrasi, maupun jadwal. Akibatnya, volume kendaraan pribadi terus membebani jalan yang kapasitasnya tidak berkembang secepat pertumbuhan pengguna.

Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat perlu menyadari bahwa solusi kemacetan Sukabumi tidak cukup hanya dengan membangun tol. Dibutuhkan langkah terpadu seperti pelebaran jalan utama, pembangunan jalur alternatif menuju kawasan wisata, penataan parkir, rekayasa lalu lintas berbasis waktu, hingga pengembangan transportasi massal regional yang terintegrasi.

Sukabumi memiliki potensi besar sebagai daerah wisata dan penyangga ekonomi Jawa Barat. Namun tanpa penanganan kemacetan yang komprehensif, potensi tersebut justru bisa terhambat oleh persoalan klasik yang terus berulang setiap pekan. Kemacetan bukan sekadar masalah kendaraan yang menumpuk di jalan, tetapi cerminan bahwa tata kelola mobilitas wilayah masih membutuhkan pembenahan serius.

Kini, masyarakat menunggu kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik besar, tetapi juga solusi nyata yang dirasakan langsung di lapangan. Sebab bagi warga Sukabumi, akhir pekan seharusnya menjadi waktu produktif dan menyenangkan, bukan rutinitas terjebak berjam-jam di tengah kemacetan.

Penulis: Purwanti Basuki,S.IP.,M.IP dosen Stisip Widyapuri Mandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *