SUKABUMIKITA.ID – Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, menghadiri kegiatan Sinkronisasi Intervensi Penanganan Stunting Tingkat Provinsi Jawa Barat yang digelar di Gedung Sate, Selasa (07/04/2026).
Dalam forum tersebut, Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, menegaskan bahwa penanganan stunting harus dilakukan secara kolaboratif dan inovatif dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk sektor swasta.
Salah satu strategi yang didorong adalah pemanfaatan teknologi digital dengan menggandeng operator seluler. Teknologi tersebut digunakan untuk mendeteksi dan memantau kondisi kesehatan ibu hamil secara berkala.
Dengan sistem pemantauan ini, kondisi ibu dan janin dapat diketahui lebih dini sehingga risiko stunting dapat dicegah sejak awal kehamilan.
Selain itu, intervensi gizi juga terus diperkuat melalui pemenuhan asupan nutrisi bagi ibu hamil berisiko, seperti pemberian telur, daging, dan tambahan gizi lainnya. Upaya ini menjadi bagian dari target besar menuju zero stunting dalam lima tahun ke depan melalui kolaborasi pemerintah kabupaten/kota dan provinsi.
Erwan juga menyoroti bahwa penyebab stunting tidak hanya berkaitan dengan faktor gizi, tetapi juga dipengaruhi oleh sanitasi dan akses air minum layak. Bahkan, risiko stunting dapat meningkat hingga 3,47 kali lipat di lingkungan dengan sanitasi buruk.
“Permasalahan sanitasi ini masih cukup menonjol di wilayah kabupaten, meskipun di perkotaan sudah mulai berkurang,” ujarnya.
Berdasarkan data terbaru, angka stunting di Kota Sukabumi pada 2024 mengalami penurunan signifikan, dari 21,7 persen menjadi 15,9 persen. Capaian ini dinilai progresif karena menunjukkan penurunan lebih dari 10 persen.
Menanggapi hal tersebut, Bobby Maulana menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari upaya terintegrasi lintas sektor.
“Kolaborasi antara pemerintah kota, provinsi hingga kementerian menjadi kunci dalam memastikan intervensi yang dilakukan tepat sasaran,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi dukungan Dinas Kesehatan dan Bappeda Kota Sukabumi dalam pembiayaan operasional kesehatan, khususnya untuk intervensi Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
“Dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat, baru empat daerah yang telah berjalan optimal, dan Kota Sukabumi menjadi salah satunya,” ungkapnya.
Selain intervensi gizi, penanganan stunting di Kota Sukabumi juga diperkuat melalui perbaikan sanitasi lingkungan. Salah satu program yang dijalankan adalah Bersih Sehat untuk Kota, yang memanfaatkan dana zakat pegawai kesehatan untuk memperbaiki rumah tidak layak huni menjadi rumah sehat.
Strategi ini juga didukung oleh peran aktif puskesmas, kecamatan, kelurahan, hingga posyandu, serta pemetaan wilayah yang telah dilakukan secara menyeluruh.
Bobby menegaskan bahwa seluruh pihak tidak boleh berpuas diri dan harus terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Upaya penurunan stunting harus dilakukan secara berkelanjutan, baik melalui intervensi gizi maupun perbaikan sanitasi, sehingga kualitas kesehatan masyarakat terus meningkat,” pungkasnya. (Cr5)
