Cow Dung Hotpot, Kuliner Ekstrem dari China yang Terbuat dari ‘Kotoran’ Sapi

SUKABUMIKITA.ID – Di tengah maraknya tren kuliner unik dunia, sebuah hidangan ekstrem asal China menjadi sorotan publik. Hidangan tersebut dikenal sebagai cow dung hotpot atau hot pot berbahan ‘kotoran’ sapi yang berasal dari wilayah Guizhou.

Meski terdengar tidak lazim, kuliner ini ternyata memiliki sejarah panjang dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat.

Dilansir dari South China Morning Post, cow dung hotpot yang juga dikenal sebagai niubie hotpot atau hot pot empedu sapi—dibuat dari cairan hasil pencernaan pertama di dalam perut sapi.

Cairan tersebut masih mengandung serat rumput yang belum tercerna, kemudian dicampur dengan empedu sapi. Selanjutnya, bahan tersebut dimasak bersama daging sapi, jeroan, serta berbagai bumbu seperti bawang putih, jahe, daun bawang, dan cabai khas daerah setempat.

Proses memasaknya tidak jauh berbeda dengan hot pot pada umumnya, yakni semua bahan direbus hingga menghasilkan kuah berwarna hijau kecokelatan.

Meski kerap dianggap menjijikkan oleh sebagian orang, sejumlah penikmat kuliner justru memberikan penilaian berbeda terhadap hidangan ini.

Seorang penulis kuliner, Lisa Cam, menyebut aroma cow dung hotpot tidak seburuk yang dibayangkan.

“Baunya tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Justru lebih mirip sup herbal China yang ringan,” ujarnya.

Rasa kuahnya pun disebut memiliki perpaduan gurih seperti kaldu sapi dengan sentuhan pahit khas herbal.

Lebih dari sekadar makanan unik, cow dung hotpot merupakan bagian dari tradisi kuliner etnis minoritas Miao dan Dong yang telah lama mendiami wilayah pegunungan Guizhou.

Dalam kepercayaan masyarakat setempat, sapi merupakan sumber nutrisi penting. Cairan dari perut sapi diyakini mengandung klorofil serta enzim pencernaan dari tumbuhan yang dimakan sebelumnya.

Selain itu, dalam praktik pengobatan tradisional China, hidangan ini dipercaya memiliki manfaat untuk mendinginkan tubuh serta membantu sistem pencernaan, terutama setelah mengonsumsi makanan berat.

Meski memiliki nilai budaya, tidak semua masyarakat menerima hidangan ini. Seorang chef asal Guizhou, Alex He, mengaku belum pernah mencobanya.

“Saya tidak bisa menerima bahan-bahannya. Bagi saya, rasa makanan khas Guizhou itu lebih ke asam dan pedas,” katanya.

Perbedaan pandangan tersebut membuat cow dung hotpot menjadi salah satu kuliner yang menuai pro dan kontra, baik di dalam negeri maupun di mata dunia.

Namun demikian, hidangan ini tetap bertahan sebagai bagian dari kekayaan budaya kuliner China dan terus menarik perhatian wisatawan yang penasaran dengan pengalaman gastronomi ekstrem. (Cr5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *