SUKABUMIKITA.ID – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menilai program urban farming yang dikembangkan warga RW 7 Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler, memberikan manfaat ekonomi nyata dengan pendapatan mencapai jutaan rupiah per bulan. Penilaian tersebut disampaikan Farhan saat meninjau langsung lokasi urban farming beberapa waktu lalu.
Program pertanian perkotaan ini memanfaatkan atap bangunan sebagai lahan tanam, sebuah solusi inovatif di tengah keterbatasan ruang terbuka di Kota Bandung. Urban farming tersebut dikelola secara kolaboratif oleh warga setempat. “Ini urban farming dalam arti yang sebenarnya. Dilakukan di tengah Kota Bandung, bahkan di atap rumah, tapi bisa efektif dan menghasilkan,” ujar Farhan, dikutip dari laman resmi portal Jabar, Kamis (01/01/2026).
Farhan melihat langsung proses penanaman berbagai jenis sayuran yang dibudidayakan menggunakan sistem hidroponik dan organik. Inisiatif ini dikelola oleh Bara Hidro milik Kartib Bayu, bekerja sama dengan warga RW 7 dengan konsep pertanian terpadu dan ramah lingkungan.
Menurut Farhan, kreativitas warga RW 7 patut diapresiasi karena mampu mengubah keterbatasan lahan menjadi peluang ekonomi keluarga. Selain menghasilkan pendapatan, urban farming juga dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan masyarakat perkotaan. “Urban farming ini membuktikan pertanian bisa tumbuh di kawasan perkotaan dan sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi warga,” katanya.
Dalam praktiknya, kelompok tani menerapkan dua metode tanam, yakni hidroponik dengan nutrisi terukur serta sistem organik tanpa pestisida. Untuk mendukung konsep ramah lingkungan, pupuk organik diproduksi secara mandiri dari sisa makanan dan sampah organik warga.
Farhan menilai pola tersebut tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga membantu mengurangi volume sampah di lingkungan RW. Ia pun mendorong agar konsep urban farming ini dapat direplikasi di wilayah lain di Kota Bandung, sehingga setiap Rukun Warga memiliki sumber pangan dan pendapatan mandiri. “Kalau ini dikembangkan, setiap Rukun Warga bisa punya urban farming sendiri. Kota lebih hijau, warga lebih mandiri, dan ekonomi lokal bergerak,” tegas Farhan.
Sementara itu, pengelola Bara Hidro Kartib Bayu menjelaskan program urban farming RW 7 telah berjalan sejak tahun 2023 dengan sistem terpadu, mulai dari pembenihan, perawatan, hingga pemasaran hasil panen.
Dalam satu bulan, kelompok tani ini mampu melakukan panen sekitar delapan kali dengan total produksi mencapai 160 kilogram sayuran. Dari hasil tersebut, pendapatan yang diperoleh berkisar Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan bagi pengelola dan petani binaan. Selain meningkatkan pendapatan warga, Kartib menambahkan program ini juga berdampak pada terciptanya lingkungan RW yang lebih bersih, produktif, dan berkelanjutan. (Cr5)
